Sabtu, 18 September 2010

Pada Seorang Tua

Lilin-lilin kecil menatap bagai kunang di kegelapan
Serempak nyanyian kalian lantunkan
Canda tawa mengisi suasana
Tepukan semarak ajak waktu tuk mendekat

Didepan bingkai jendela kalian lihat
Seorang tua tengadahkan kedua telapak tangannya
Menunggu bintang kemuliaan turun kepadanya
Menangis dirinya !!
Tak pernah kulihat tawa dicelah bibirnya

Berikan wahai dunia yang mendengar
Berikan wahai dunia yang melihat
Berikan senyuman kepadanya
Karna kuyakin dia merindukannya
Melebihi rindu seorang kekasih
Melebihi rindu seorang ibu pada anaknya
Melebihi jiwa yang haus akan kasih sayang


Agil Tri Anggoro
08/02/2010

Kotaku

Renungkan sejenak bersama bintang nuansa kotamu
Terasa terik kala kau terdiam dalam khayal
Tanpa semilir yang hadir dari tiap helai daun hijau
Gedung-gedung tinggi penyangga langit
Rangkaian segala keangkuhan pemijak bumi
Kan semakin tinggi segala yang melayang
Dan semakin menganga segala yang terluka
Sementara,
Kau pandangi dari atas gedung tinggi
Gubuk-gubuk hampir rubuh terhempas keangkuhan
Pura buta dan pura segalanya
Kurasakan pada pandanganmu, yang diatas
Dalam keheningan aku terlahir kedunia
Dalam keheningan aku sesali kotaku
Yang kejam, membunuh segala tawa dan kasih sayang
Kudambakan kedamaian, kudambakan ketenangan
Kudambakan semua yang mengerti kasih sayang

Agil Tri Anggoro
08/05/2006

Harapan tertinggi

Atas nama Tuhanku yang tertinggi
Kan kulambungkan harapanku setinggi tinggi harapanmu padaku
Selayunya tubuhku terhempas cita-citaku
Kan kuraih hempasan itu dengan jaring-jaring semangatku

Harapan yang kau tanam pada tiap kata-kataku
Menjadi semangat dalam pencapaian harapanku
Detak jarum jam berbunyi keras
Saat ku mulai berjalan menuju harapanku
Tak ada teman, tak ada sahabat yang mendendam padaku
Dalam tiap langkah ini, bayangannya berikanku semangat
Karang terpecah terhempas ombak
Sekeras itupun harapanku

Agil Tri Anggoro

Katakan

Mentari enggan menatapku ketika
Pagi sempurna menyambut hari
Adakah yang salah denganku
Ataukah aku yang sombong menatapnya
Seperti memberikan senyuman terindah
Tapi bukan aku

Kehangatannya tak lagi kurasakan
Hingga kebekuan ini tak kunjung mencair
Menggunung menutupi jendela hati
Yang tak lagi berguna
Layaknya hati yang tak berperangai
Itulah aku
Terhempas badai ketidaktahuan
Terbawa arus sepi

Salahkah aku
Ketika kutinggalkannya ketika malam
Dan kusapanya ketika pagi datang
Ataukah rapuhnya aku
Ketika kubiarkan awan gelap
Dan bala tentaranya
Menghapus ceriamu

Kita bukanlah pengecut
Kita bukanlah seorang yang menggunakan diam sebagai pelindungnya
Dan tangisan sebagai senjatanya

20-01-2010
AGIL TRI ANGGORO

Berjanjilah

Jika kau inginkan aku untuk mencintaimu
Apakah kau akan berjanji
Untuk lebih daripada aku mencintaimu

Renungkan segala inginku
Renungi segala inginmu
Apakah kau takkan hidup tanpa hembusan nafasku
Apakah kau kan selalu iringi langkahku
Dan ku tak mau hingga lentera berselimutkan biru
Padam tanpa jiwa yang selalu menghidupi lentera biru

Cinta yang tersambut
Kan diayuh menelusuri segala muara kehidupan
Berisikan segala liku
Hingga kan terasing melalui sisa-sisa kehidupan

Agil Tri Anggoro
22/05/2006

Dimana, Dia

Cerminan pagi air mengalir
Nampakkan wajah kelabu sang langit
Sembunyikan fajar, kekalkan embun pagi

Penindasan pada ketidaksanggupan
Antarkan air mata pemberontakan
Jerit kesakitan sumbat telinga keserakahan
Bulir-bulir keringat butakan mata hati penindas
Dalam derap kakinya
Usik tidurku dengan tangisan lapar bayi yang masih bersemburat
Gelisah kurcaci bersama gemuruh gergaji perkasa
Kini kemanusiaan berada dalam perangai kesedihan
Dan bala tentara kegelapan
Warnai segala kedamaian dalam cerita
Dimana dia yang kan turun membawa asma kebenaran
Bersama ribuan bintang kemuliaan
Hancurkan keserakahan, hancurkan penindasan
Lalu dia kan bercerita tentang arti hidup yang sekejap
Dan hidup bersama keabadian

15/04/2006
Agil Tri Anggoro

Selasa, 07 September 2010

Angin

biarkan kita saling menjauh
biarkan angin menjaga perasaan kita
dalam jarak yang tak terangkai

kita akan tersenyum dalam kesedihan 

dan menangisi kesalahan ini

dan ketika kita telah tersadar

angin itu telah membawa kenangan itu

jauh meninggalkan mimpi dan angan kita

mencoba untuk menjadi besar diantara kita

menanggalkan ego masing-masing

biarkan kita saling menjauh
biarkan angin menjaga perasaan kita

dan biarkan aku bahagia dengan pilihanku


Agil Tri Anggoro

8/8/2010

Rabu, 01 September 2010

Cerita Lalu

kupandang hamparan putih
hampa kulihat lenyap kusentuh
menekan himpit tubuh
ingin kumuntahkan segala beban
meletus menyirami hamparan putih
dapat kusentuh dapat kulihat
akankah hilang seperti dulu
ku sakit dia sakit
ku senang dia hilang
hanya terlihat bila kutakut
menemani saat kusendiri
tak muncul bila ramai
ku lalui bersamanya
hingga aq masuk ke dunianya
sangat gelap penuh dosa
akankah aku keluar .
oh jauhi aku
tp aq ingin menjadi menjadi anak kecil….
tertawa lepas,
tampa beban,
tak pernah merasa kawatir akan hari esok

Agil Tri Anggoro
2006